√ Kisah Pernikahan Imam Ali dengan Sayyidah Fatimah Az-Zahra

Kisah Pernikahan Imam Ali dengan Sayyidah Fatimah Az-Zahra

Kisah Pernikahan Imam Ali dengan Sayyidah Fatimah Az-Zahra – Para ulama besar Syiah seperti Kulaini, Thabarsi dan Ibnu Syahr Asyub dalam kitab Kafi, A’lamul Waro dan Manaqib berpendapat bahwa Sayyidah Fatimah as lahir lima tahun setelah bi’tsah.

Allamah Majlisi dalam Biharul Anwar, jilid 43, halaman 19 menukil semua pendapat ini. Syaikh Thusi dalam kitab Misbahul Mutahajjid berkata bahwa beliau lahir dua tahun setelah bi’tsah.

Para ulama Sunni berpendapat bahwa beliau lahir lima tahun sebelum bi’tsah. Namun, pendapat ini tidak sesuai dengan penolakan Nabi saw terhadap para pelamar dengan alasan usia putrinya yang masih kecil.

Karena, bila lima tahun sebelum bi’tsah ditambah dengan 13 tahun risalah Nabi saw di Makkah, berarti ketika menikah di Madinah, Sayyidah Fatimah berusia di atas 18 tahun.

Pancaran Sinar Muhammad

Kisah pernikahan Imam Ali as dan Sayyidah Fatimah as penuh dengan keindahan seperti kisah perkawinan Rasul saw dan Sayyidah Khadijah as.

Ini adalah kisah pernikahan antara dua cahaya dan pernikahan yang penuh dengan berkah samawi. Setelah sekian abad, semua orang, bahkan non Muslim, mengenal dua pribadi agung ini dan keutamaan mereka.

Tiga tahun setelah peristiwa mi’raj Nabi saw, pada tanggal 20 Jumadits Tsani tahun kelima bi’tsah, ibunda para imam suci lahir dan cahayanya memenuhi bumi hingga langit.

Para penghuni langit pun bersukaria menyambut kelahiran bayi mulia ini.

Nama nama putri Nabi saw dan penjelasan maknanya akan menghabiskan berlembar-lembar kertas.

Para sejarawan, sesuai dengan kemampuan mereka, telah menuliskan nama-nama putri Nabi saw dalam karya-karya mereka.

Kitab kitab seperti Biharul Anwar dipenuhi oleh cahaya nama-nama Fatimah as. Sayyid Abdur Razzaq Muqram dalam makalahnya menulis makna nama-nama Sayyidah Fatimah as dengan bersandarkan riwayat para imam ahlulbait. Salah satunya adalah riwayat dari Imam Shadiq as:

“Fatimah as mempunyai sembilan nama di sisi Allah SWT: Fatimah, Shiddiqah, Mubarokah, Thahirah, Zakiyah, Radhiyah, Mardhiyah, Muhaddatsah dan Az Zahra”

Tidak ada satupun dari nama-nama ini yang tak memiliki makna yang dalam.

Kita dapat mencari makna nama-nama ini di kitab-kitab para ulama.

Imam Shadiq as berkata: “Ia dinamakan Az-Zahra karena ia bersinar tiga kali dalam sehari bagi Amirul Mukminin as: di waktu Shubuh ketika orang-orang tidur, cahaya putih menyebar dan memasuki rumah-rumah kaum Muslim. Mereka keheranan melihat hal ini dan bertanya kepada Nabi saw.

Beliau lalu menyuruh mereka pergi ke rumah Fatimah as. Ketika mereka pergi ke rumahnya, mereka melihat Fatimah as sedang shalat dan cahaya memancar dari wajahnya. Mereka mengerti bahwa cahaya yang menyinari rumah mereka adalah cahaya Fatimah.

Di tengah hari, ketika Fatimah bersiap untuk shalat, wajah mulianya memancarkan cahaya kuning yang menyebar ke rumah penduduk Madinah hingga membuat wajah dan pakaian mereka berwarna kuning.

Mereka datang menghadap Nabi saw dan menceritakan apa yang mereka lihat.

Beliau lalu menyuruh mereka perrgi ke rumah putrinya. Sampai di sana, mereka melihat Fatimah sedang shalat di mihrabnya dan cahaya kuning memancar dari wajahnya.

Mereka sadar bahwa cahaya yang mereka lihat adalah cahaya Fatimah as.

Ketika matahari tenggelam, dikarenakan kegembiraannya dan rasa syukurnya kepada Allah, wajahnya memerah bercahaya. Cahaya wajahnya kembali menyebar ke seluruh penjuru Madinah dan membuat halaman-halaman rumah penduduk Madinah bercahaya.

Mereka kembali datang menemui Nabi saw dan menanyakan sebabnya.

Beliau kembali menyuruh mereka pergi ke rumah Fatimah as. Di sana, mereka menyaksikan Fatimah sedang bertasbih dan wajahnya memerah bercahaya.

Cahaya ini selalu memancar dari wajahnya sampai ia melahirkan Husain as dan berpindah kepadanya.

Cahaya itu, akan tetap memancar dari wajah-wajah kami ahlulbait sampai hari kiamat.

Ketika Sayyidah Fatimah as lahir, semua saudara perempuannya telah menikah. Namun, suami suami mereka tidak memperlakukan mereka sebagaimana mestinya.

Hanya Abul Ash bin Rabi’, keponakan Sayyidah Khadijah, menantu yang layak bagi Nabi saw. Tapi, karena ia tetap dalam keadaan musyrik sampai penaklukan Makkah, ia menyebabkan berbagai kesulitan bagi Zainab putri Nabi seperti yang telah disebutkan oleh para sejarawan.

Saudarinya yang lain, Ummu Kultsum meninggal di tahun tujuh atau sembilan Hijriyah.

Ya, Fatimah putri Nabi saw yang paling kecil menyaksikan kematian saudari-saudarinya yang menggantikan kedudukan ibunya. Ia harus mengisi tempat kosong saudari saudarinya setelah mereka meninggal.

Dengan kondisi ini, putri Khadijah yang dipanggil ayahnya dengan sebutan Ummu Abiha ini, bisa dipastikan sangat disayang oleh ayahnnya.

Apabila dalam Situasi tertentu di Makkah dan Madinah, Nabi saw memberikan putri putrinya kepada Abul Ash dan Utsman, maka berkaitan dengan Fatimah, Allah dan Nabi-lah yang mengambil keputusan.

Mungkin Allah berkehendak untuk menghilangkan kesedihan Nabi saw dengan memilihkan menantu yang sesuai bagi putrinya.

Para pembesar Quraisy menghasut Abul Ash dan Utbah bin Abu Lahab untuk menceraikan putri putri Nabi saw (Zainab dan Rugayyah) hingga beliau akan menemui kesulitan dalam menghidupi putri putrinya.

Namun, Abul Ash tidak menghiraukan hasutan mereka dan tetap setia kepada istrinya.

Kesetiaannya ini kelak membuahkan keimanannya dan ia mempunyai seorang putri bernama Amamah yang kelak diperistn oleh Imam Ali as.

Adapun anak Abu Lahab, ia menceraikan istrinya atas hasutan para musyrikin Quraisy.

Khatib al Baghdadi dalam Tarikh Baghdad menulis: “Ibnu Abbas berkata: Aku dan ayahku sedang duduk bersama Rasul saw ketika Ali as masuk dan mengucapkan salam. Rasul saw menjawab salamnya dan menampakkan kegembiraannya atas kedatangan Ali as.

Beliau bangkit dari duduknya, memeluk Ali dan mencium antara dua matanya lalu mendudukkannya di sampingnya.

Ayahku berkata, “Wahai Rasulullah, apakah engkau mencintai Ali?”

Beliau menjawab,” Wahai paman, demi Allah, Dia lebih mencintai Ali dibanding diriku, karena Dia menjadikan keturunan setiap nabi dalam sulbi mereka, namun ia menjadikan keturunanku dalam sulbi Ali (karena Fatimah as hanya putri beliau yang masih hidup dan semua putra beliau telah meninggal). “

Kandungan riwayat ini dinukil oleh :

  • Kharazmi dalam Manaqib, halaman 229.
  • Muhibbuddin Thabari dalam Dzakhairul Ugba. Humawaini dalam Faraidus Simtain.
  • Dzahabi dalam Mizanul I’tidal.
  • Ibnu Hajar dalam Showaiqul Muhriqoh.
  • Muttagi Hindi dalam Muntakhab Kanzul Ummal.
  • Ganduzi dalam Yanabiul Mawaddah.

Tsalabi saat menafsirkan ayat ke-4 surat At Tahrim berkata bahwa yang dimaksud dengan sholihul mukminin adalah Ali bin Abi Thalib as.

Kisah Pernikahan Imam Ali dengan Sayyidah Fatimah

Pernikahan antara dua manusia suci ini berlangsung pada tahun kedua Hijriyah. Semua syarat pernikahan putri Nabi saw telah terpenuhi.

Banyak orang yang berniat mengambil Fatimah as sebagai istrinya dan menjadikannya sebagai bagian dari keutamaan mereka. Dengan berbagai cara, mereka ungkapkan keinginan mereka kepada Nabi saw.

Abu Bakar dan Umar mengedepankan persahabatan mereka dengan Nabi saw dan menyebutkan keutamaan mereka untuk mengambil hati beliau. Namun, Nabi saw menolak lamaran mereka.

Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa setelah lamaran mereka ditolak Nabi saw, mereka datang menemui Imam Ali as dan mendorong beliau untuk melamar Fatimah as.

Dalam riwayat lain dikatakan bahwa yang mendorong Imam Ali as untuk melamar putri Nabi saw adalah Sa’ad bin Muadz.

Riwayat lain menyebutkan bahwa Nabi saw sendiri yang menanyakan kepada Imam Ali as tentang niatnya untuk menikah dengan Sayyidah Fatimah as dan menjelaskan tugas yang diembannya dari Jibril as untuk menikahkannya dengan putrinya.

Namun, dalam riwayat lain, demikian disebutkan:

Imam Ali as pergi sendiri menghadap Nabi saw untuk melamar Fatimah as. Ia sangat malu untuk mengutarakan niatnya hingga Nabi saw dengan raut muka gembira bertanya kepadanya, “Untuk apa kau datang? Sepertinya kau datang untuk melamar Fatimah?”

Imam Ali menjawab: “Benar wahai Rasulullah!”

“Sebelum kau, banyak orang telah datang kepadaku dengan niat sama. Tapi setiap kali aku berunding dengan Fatimah, ia tidak menjawab lamaran mereka. Aku pun ridha dengan apa yang diridhai olehnya. Tunggulah sebentar supaya aku memberitahu Fatimah tentang niatmu.”

Nabi saw datang menemui putrinya dan berkata kepadanya, “Anakku, Ali anak pamanku datang melamarmu. Dia bukan orang asing bagimu dan kau sudah tahu keutamaannya. Ia ingin menjadikanmu sebagai istrinya. Apa pendapatmu?”

“Wahai Rasulullah, engkau lebih berhak untuk memberi pendapat.”

“Anakku, sesunguhnya Allah telah mengizinkanmu menikah dengannya.”

Sambil tersenyum gembira, Fatimah berkata, “Aku ridha dengan apa yang diridahi oleh Allah dan Rasul-Nya.” (Dalam riwayat lain disebutkan bahwa Fatimah as berkata, ” Aku rela Allah sebagai Tuhanku dan ayahku sebagai Nabiku dan putra pamanku sebagai suamiku.”)’

Nabi saw lalu datang menemui Ali as dan mengabarkan persetujuan putrinya. Beliau bertanya, “Wahai Ali, putriku setuju untuk menikah denganmu. Mahar apa yang hendak kau berikan kepadanya?”

“Ayah dan ibuku sebagai tebusanmu wahai Rasulullah, engkau sendiri tahu keadaan hidupku. Semua hartaku hanyalah sebilah pedang, baju besi dan seekor unta.”

“Wahai Ali, pedangmu akan kau gunakan untuk berjihad dan untamu akan kau gunakan untuk mengambil air dan mengangkut barang. Karena itu, Juallah baju besimu.”

Imam Ali as lalu pergi menjual baju besi yang merupakan ghanimah dari perang Badar seharga 380 atau 500 Dirham dan menyerahkan uangnya kepada Nabi saw.

Beliau membaginya menjadi tiga bagian:

  1. Sepertiga untuk membeli perlengkapan rumah.
  2. Sepertiga untuk minyak wangi.
  3. Sisanya beliau serahkan kepada Ummu Salamah sebagai amanat.

Menjelang malam pernikahan, beliau menghadiahkannya kepada Imam Ali as hingga ia bisa menyiapkan walimah pernikahan.

Sahabat-sahabat Imam Ali as pun memberi bantuan kepada beliau untuk acara walimah seperti yang disebutkan oleh Abul Futuh Ar-Razi dalam tafsirnya jilid 14, halaman 261.

Nabi saw menyuruh sebagian sahabatnya untuk menyiapkan perlengkapan rumah putri tercintanya.

Ada beberapa versi tentang nama nama para sahabat yang disuruh Nabi saw untuk membeli perkakas rumah Fatimah as. Mungkin beliau menyerahkan urusan alat-alat rumah kepada ahlinya. Misalnya, nama Ummu Aiman disebutkan dalam riwayat-riwayat ini.

Abu Bakar, Ammar Yasir, Bilal Habsyi dan Salman Al Farisi pergi ke pasar untuk menyiapkan perlengkapan rumah bagi dua kekasih Nabi saw ini.

Sebagian sejarawan menyebutkan bahwa Miqdad bin Aswad Al-Kindi juga termasuk para sahabat yang menyiapkan perkakas rumah Ali as.

Sebagian yang lain tidak menyebutkan nama mereka. Alhasil, para sahabat melaksanakan tugas mereka dan membawa barang barang yang mereka beli kepada Nabi saw.

Beliau membolak-balikkan barang barang itu dan bersabda, “Semoga Allah memberkati penghuni rumah ini.“ Atau beliau bersabda, “Ya Allah, berkatilah kaum yang sebagian besar barang mereka terbuat dari tanah liat.”

Mereka yang sebelumnya datang melamar Fatimah dan ditolak oleh Nabi saw, kembali datang menemui beliau dan berkata, “Kenapa Anda menikahkan Fatimah dengan Ali dengan mahar sedikit.”

Beliau menjawab, “Bukan aku yang menikahkan mereka. Tapi Allah lah yang menikahkan mereka di malam mi’raj di dekat Shidratul Muntaha. Aku manusia seperti kalian. Aku menikah dengan wanita di antara kalian dan aku nikahkan putriku dengan kalian. Tapi, aku tidak dapat mengambil keputusan berkaitan dengan Fatimah, karena perintah pernikahannya datang dari langit.”

Banyak orang yang memiliki pikiran Jahiliyah Pada waktu itu, tanpa melihat kelayakan kelayakan menantu Nabi saw, para wanita Quraisy mencela Fatimah karena ia menikah dengan lelaki miskin. Fatimah as datang menghadap Nabi saw sambil menangis dan mengadukan ucapan mereka kepada ayahnya.

Beliau bersabda, “Wahai Fatimah, apakah kau tidak ridha aku nikahkan kau dengan orang yang lebih dahulu masuk Islam, paling berilmu dan paling bijak?”

Fatimah menjawab, “Aku ridha dengan apa yang diridhai Allah dan rasulnya.””

Barangkali Fatimah as tidak mengetahui lamaran Abdurrahman bin Auf

dan Utsman bin Affan yang datang melamarnya dengan motivasi tertentu. Anas bin Malik berkata, “Suatu hari, Abdurrahman bin Auf dan Utsman bin Affan yang lebih terkenal di antara sahabat, datang ke rumah Rasulullah saw.

Abdurrahman berkata kepada beliau, “Wahai Nabi, nikahkanlah putrimu denganku! Aku akan memberinya mahar seratus unta hitam bermata biru dan semuanya adalah unta Mesir yang sedang hamil. Selain itu, aku akan tambahkan sepuluh ribu Dinar.”

Utsman berkata, “Akupun siap memberi sejumlah itu. Lagi pula, aku lebih dahulu masuk Islam ketimbang Abdurrahman.”

Tapi Rasulullah saw menolak lamaran mereka.

Kekuasaan tidak akan kekal bagi siapapun Tidak bagi Kaisar dan tidak bagi Kisra”

Perkakas rumah Sayyidah Fatimah as

  1. Sebuah kasur dengan seprai dari katun yang berisi bulu domba.
  2. Taplak dari kulit kambing.
  3. Sebuah kasur lain yang dibungkus katun dan berisikan pelepah kurma.
  4. Sehelai tikar Hajari (Hajar adalah sebuah desa dekat Madinah yang—penduduknya bekerja sebagai pembuat tikar).
  5. Sehelai tikar Oithri (sejenis tikar lembut yang terbuat dari bambu).
  6. Sehelai permadani.
  7. Dua sandaran bantal berlapis kapas hitam yang diisi dengan pelepah kurma dan dua bantal.
  8. Tirai dari wol.
  9. Sebuah wadah dari tembaga untuk mencuci pakaian, mangkuk besar dan mangkuk dari kayu untuk susu.
  10. Selimut hitam dari Khaibar dan sebuah jubah buatan Khaibar dan ranjang yang dibuat dari kullit pohon kurma.
  11. Kantung besar air yang terbuat dari kulit kerbau untuk menyimpaan air dan sebuah kendi.
  12. Sebuah penggiling gandum dan saringan.
  13. Handuk, sapu tangan dan minyak wangi.
  14. Pakaian dan baju hangat.
  15. Cadar dan kerudung.
  16. Timba dari kulit untuk mengmabil air dari sumur.
  17. Kendi untuk bersuci.
  18. Gantungan baju.

Rasulullah saw telah menyediakan segala hal yang diperlukan oleh kedua mempelai untuk memulai hidup baru.

Meski semua peralatan ini sangat sederhana dan bersahaja, tapi bukan berarti tidak memiliki nilai. Tentunya, dan sisi materi, ia tidak bisa dibandingkan dengan peralatan rumah para pengantin Quraisy zaman itu.

Yang pasti, prinsip keadilan dan penghematan harus dijaga di setiap masa, karena kanaah adalah kerajaan yang abadi dan ketamakan adalah kefakiran yang kekal.

Mahar Sayyidah Fatimah

Semua yang telah kita sebutkan tentang perkakas rumah Az-Zahra, tidak berperan dalam keridhaan putri Nabi saw ini. Ia selalu memandang jauh ke depan dan seperti ayahnya, ia pun menaruh iba terhadap para pendosa umat ayahnya.

Ahmad bin Yusuf dalam kitab Akhbarud Duwal wa Atsarul Awwal menulis:

Diriwayatkan bahwa ketika Nabi saw menikahkannya dengan Ali as dan menentukan maharnya, ia berkata, “Wahai Rasulullah, semua wanita bersuami dan menentukan kadar mahar nikah mereka. Lalu, apa perbedaan mereka denganku? Aku ingin kau kembalikan maharku kepada Ali dan kau mohonkan kepada Allah supaya Ia menjadikan syafaatku bagi umatmu sebagai mahar nikahku.”

Jibril as lalu turun sambil membawa sehelai kertas sutra yang bertuliskan: “Allah telah menjadikan syafaat Fatimah bagi umat ayahnya sebagai mahar nikahnya.”

Oleh karena itu, menjelang wafatnya, Sayyidah Fatimah as berwasiat untuk meletakkan kertas ini dalam kafannya. Ketika wasiatnya dilaksanakan, beliau berkata, “Di hari kiamat, aku akan memegang kertas ini dan memberikan syafaat kepada orang-orang yang berdosa dari umat ayahku.”

Khotbah Nikah Imam Ali dengan Sayyidah Fatimah

Di hadapan para penduduk Madinah dan para pembesar Quraisy, setelah memanjatkan puja dan puji kepada Allah SWT, Rasulullah saw membaca akad nikah dan berkata,

“Sesungguhnya Allah telah memerintahkanku untuk menikahkan putriku Fatimah as dengan saudaraku dan anak pamanku Ali bin Abi Thalib…”

Kemudian beliau duduk dan berkata kepada Ali as, “Wahai Ali, bangkit dan bacalah khotbah nikahmu.”

Ali menjawab, “Wahai Rasulullah, bagaimana aku berkhotbah di hadapanmu?”

Beliau menjawab, “Jibril memerintahkanku untuk meyuruhmu membaca khotbah nikah.”

Ali as lalu berdiri dan setelah memuji Allah dan mengucapkan salam atas Rasul saw, beliau mengakhiri khotbahnnya dengan berkata,

“Menikah adalah hal yang diperintahkan Allah dan diizinkan oleh-Nya. Majlis ini adalah majlis yang dilangsungkan atas perintah-Nya dan diridhai oleh-Nya. Sekarang ini, Muhammad bin Abdullah telah menikahkan putrinya Fatimah denganku dengan mahar empat ratus Dinar. Saksikanlah bahwa aku rela dengan akad ini. Mintalah kalian kesaksian dari Rasulullah!”

Hadirin lalu menanyakan kesaksian Rasulullah saw. Beliau mengiyakan ucapan Ali as dan menyebutnya sebagai menantu yang pantas.

Para hadirin lalu mengucapkan selamat kepada Ali as. Majlis pernikahan itu diakhiri dengan jamuan kurma.”

Dari Pertunanangan Hingga Pernikahan

Setiap kali Rasulullah saw berduaan dengan Imam Ali as, beliau selalu berkata, “Istrimu sungguh rupawan dan baik. Berbahagialah engkau, karena kau telah kunikahkan dengan penghulu wanita semesta.””

Hampir sebulan telah berlalu dari masa pembelian peralatan rumah. Meskipun Imam Ali as selalu shalat dengan Nabi saw dan bertemu dengan beliau, tapi masalah pernikahannya tidak pernah dibicarakan.

Dari satu sisi, para wanita Quraisy selalu datang menemui Fatimah as dan berkata kepadanya bahwa ia dinikahkan dengan seorang lelaki yang tidak memiliki apapun.

Sayyidah Fatimah as menghadap ayahnya dan mengadukan ucapan mereka kepada beliau.

Sebagai jawaban pengaduan putrinya, Nabi saw selalu memuji Ali as sebagai manusia mulia dan sahabat setianya yang selalu diridahi Allah.

Ali as yang menginginkan untuk memulai hidup barunya, merasa malu untuk mengutarakan niatnya kepada Nabi saw. Hingga pada suatu hari, Aqil datang menemui saudaranya dan berkata kepadanya, “Saudaraku, tidak ada yang lebih menggembiranku dari pernikahanmu dengan Fatimah. Kenapa kau tidak meminta dari Rasul untuk mengirimkan putrinya ke rumahmu?”

“Demi Allah, akupun menghendaki hal ini, tapi aku malu terhadap Nabi,” jawab Ali as.

“Mari kita pergi menemui beliau dan membicarakan masalah ini. “

Mereka berdua lalu pergi menghadap Nabi saw. Ummu Salamah dan istri istri Nabi mengetahui masalah Ali dan meminta kepadanya supaya mereka yang menghadap Nabi saw.

Para istri Nabi datang berombongan menemui beliau dan berkata kepadanya, “Kami datang menemui Anda untuk suatu hal yang akan membuat Khadijah gembira bila ia masih hidup.”

Nama Khadijah membuat Nabi saw terharu dan melinangkan air mata. Mengingat istri dan penolong setianya, beliau berkata, “Siapa yang dapat menyerupai Khadijah? Ketika tidak ada orang yang mempercayai ucapanku, ia mendukungku dan menyerahkan hartanya demi tegaknya agama Allah. Maka itu, Allah akan memberinya ganjaran rumah dari zamrud di surga.”

Ummu Salamah berkata, “Ayah dan ibu kami menjadi tebusanmu wahai Rasulullah! Semua apa yang Anda katakan tentang Khadijah benar. Ali datang dan ingin membawa istrinya ke rumahnya.”

“Kenapa ia sendiri tidak meminta dariku?”

“Ia malu untuk mengutarakan niatnya kepada Anda. “

Rasulullah saw lalu menyuruh Ummu Aiman untuk membawa Ali as datang menghadapnya. Ali as datang sambil menundukkan kepala karena malu dan mengucapkan salam kepada Rasul.

Beliau menjawab salamnya dan berkata, “Apakah kau ingin membawa Fatimah ke rumahmu?”

“Ya wahai Rasulullah“ Jawab Imam Ali

“Malam ini atau besok malam, Fatimah akan kubawa ke rumahmu,” sabda Rasul.

Ali gembira mendengar jawaban Rasul. Kabar ini lalu tersebar di Madinah. Haritsah bin Numan yang tahu keadaan ekonomi Ali as, datang menemui Rasul saw dan menghadiahkan rumahnya yang tidak jauh dari rumah beliau. Beliau lalu mendoakan kebaikan untuknya. Tentunya, ini berkaitan dengan awal pernikahan dua manusia mulia ini, karena nantinya rumah mereka pindah dekat masjid Nabi.

Ali as lalu menyebar kerikil dan pasir di lantai rumahnya, menggantungkan kayu untuk meletakkan pakaian dan menghamparkan kulit kambing serta sebuah bantal sebagai sandaran duduk. Dengan ini, Ali as siap menyambut kedatangan istrinya di rumahnya.’

Rasululllah saw berkata kepada Ali as, “Kita harus mengadakan walimah, karena banyak kebaikan di dalamnya dan Allah menyukainya. Aku sediakan daging dan roti, sedangkan kau menyiapkan kurma dan minyaknya.”

Begitu mendengar kabar, Saad bin Muadz menghadiahkan seekor kambing untuk menjamu para tamu. Setelah semuanya siap, Rasulullah saw menyingsingkan lengan bajunya, membelah-belah kurma dan melumurinya dengan minyak. Beliau bersabda kepada Ali, “Pergilah ke masjid dan undanglah siapa yang kau kehendaki.”

Ali pergi ke masjid dan melihat masjid penuh dengan orang. Ia merasa malu untuk mengundang sebagian orang dan tidak mengundang yang lain. Ia naik mimbar dan berkata, “Pergilah kalian ke majlis walimah Fatimah as dan penuhilah undangannya.”

Orang-orang datang berombongan ke rumah Ali. Beliau merasa malu karena hanya sedikit makanan yang tersedia. Rasulullah saw memahami masalah Ali dan bersabda kepadanya, “Wahai Ali, aku telah berdoa kepada Allah untuk memberkati walimah ini. Cuma karena rumah ini kecil, katakan kepada mereka untuk datang bergantian sepuluh orang.”

Ali as berkata, “Semua orang datang dan mendoakan kebaikan bagi kami, namun makanan masih tersisa.”

Rasulullah saw lalu meminta sebuah wadah, lalu mengisinya dengan makanan dan mengirimkannya ke rumah para tetangga.

Beliau menyisakan makanan dan menaruhnya di sebuah wadah sendiri dan bersabda bahwa makanan ini khusus untuk Fatimah dan Ali as.

Kemudian Rasulullah saw menyuruh Ummu Salamah membawa Fatimah as menemuinya.

Ummu Salamah berkata, “Aku membawa Fatimah as menghadap ayahnya sementara wajahnya berkeringat karena malu terhadap Rasul saw.

Beliau bersabda, “Semoga Allah menyelamatkanmu dari ketergelinciran dunia dan akhirat.”

Ketika Fatimah duduk menghadap ayahnya, beliau menyingkapkan cadar dari wajahnya hingga Ali as melihatnya.”

Rasulullah saw menyiapkan sehelai pakaian putih untuk putrinya. Di malam pernikahan, seorang pengemis datang ke pintu rumah Ali as dan meminta pakaian lama yang tak terpakai.

Sayyidah Fatimah as berniat memberikan pakaian lamanya, tapi ia teringat ayat Alquran yang mengatakan: “Kalian tidak akan mendapatkan kebaikan kecuali kalian berikan apa yang kalian cintai.”

Beliau lalu memberikan pakaian hadiah dari ayahnya kepada pengemis itu.” Sebagai balasannya, Allah memberikan pakaian dari surga kepada Sayyidah Fatimah as.

Rasulullah saw yang mengawasi jalannya pernikahan, menaruh kain di punggung hewan tunggangannya dan menyuruh para wanita Muhajirin dan Anshar serta putri putri Abdul Muthallib mengiringi Fatimah as dan menampakkan kegembiraan mereka.

Beliau meminta mereka bertakbir dan bersyukur kepada Allah. Kendali kuda beliau serahkan kepada Salman sedangkan Hamzah, Aqil, Jafar dan para lelaki bani Hasyim berjalan di belakang kuda. Ummu Salamah bersyair,

“Wahai para wanita, majulah kalian dengan pertolongan Allah dan bersyukurlah kepada-Nya di semua keadaan.

Ingatlah nikmat Allah yang telah menghapus keburukan dan menggantikannnya dengan kebaikan. Kita telah keluar dari kesesatan dan mendapatkan petunjuk. Bersama kami, iringlah wanita terbaik semesta, putri manusia yang dimuliakan Allah dengan wahyu dan risalah.”

Aisyah melantunkan syair ini:

“Puja dan puji kepada Allah atas segala nikmatnya,
Bawalah Fatimah, wanita yang telah disucikan oleh Allah.”

Sedangkan Hafshah bersyair:

“Fatimah wanita terbaik semesta yang rupawan bak bulan
Allah telah meninggikan derajatmu melebihi manusia manusia lain
Allah telah menjadikanmu istri pemuda terbaik, yaitu Ali.
Maka, wahai para wanita, iringlah dia, karena ia adalah wanita mulia dan putri manusia agung.”

Muadzah, ibu Saad bin Muadz bersyair demikian:

“Aku katakan suatu hal yang mengandung kebenaran dan kebaikan. Muhammad adalah manusia terbaik yang tidak sesat dan tidak takabur. Berkat dia, kami temukan jalan lurus. Semoga Allah memberinya ganjaran terbaik. Kami mengiringi putri Nabi yang memiliki kesempurnaan. Aku tidak melihat yang setara dengannya.”

Ketika para pengiring melantunkan syair syair ini, mereka mengulang bait pertama dan masuk rumah sambil bertakbir.

Diriwayatkan dari Imam Shadiq as bahwa ketika Fatimah as diantar ke rumah suaminya, Jibril, Mikail dan Israfil turun ke bumi beserta tujuh puluh dua ribu malaikat.

Jibril memegang tali kendali kuda Nabi saw dan Israfil mengiringi di tengah rombongan dan Mikail mengikuti dari belakang. Sementara malaikat yang lain bertakbir. Sepertinya sunah bertakbir di acara pemikahan dimulai sejak saat itu.

Setelah pengantin wanita diantar ke rumah suaminya, orang-orang pergi meningggalkan rumah Ali dan hanya Asma binti Umais yang tinggal di sana.

Ketika Nabi saw memintanya pergi, ia menjawab, “Kalau Anda izinkan, saya akan tinggal di samping Fatimah. Karena menjelang wafat, Khadijah menangis.

Saat saya menanyakan sebabnya, ia berkata, “Aku tidak menangis karena mati. Tapi setiap wanita akan membutuhkan wanita lain di sampingnya saat ia menikah untuk memenuhi keperluannya dan menjaga rahasianya. Aku khawatir tidak ada yang menemani Fatimah ketika ia menikah nanti.”

Saya berkata, ” Saya berjanji bila saya masih hidup waktu Fatimah menikah, saya akan mendampinginya dan menggantikan kedudukan Anda.”

Nabi saw menangis dan bersabda, “Apakah untuk ini kau hendak tinggal di sini?”

Saat aku mengiyakan, beliau mendoakan kebaikan untukku.”

Kemudian Nabi saw mendudukkan Ali dan Fatimah as di sampingnya. Beliau meletakkan tangan Fatimah di atas tangan Ali dan bersabda, “Wahai Abul Hasan, ini adalah amanat Allah dan amanat Rasul-Nya di sisimu. Ingatlah Allah dan perhatikan cintaku terhadapnya.”

Dalam riwayat lain disebutkan bahwa beliau bersabda, “Wahai Ali, Fatimah adalah istri terbaik. Wahai Fatimah, Ali adalah suami terbaik.”

Beliau lalu meminta wadah air dan meminum airnya untuk bertabaruk. Beliau lalu memberikannya kepada Ali dan Fatimah dan menyuruh mereka meminum airnya.

Beliau lalu mengambil sisa air dan mencipratkannya ke wajah dan dada Ali dan Fatimah sambil membaca ayat: “Innama yuridullahu an yudzhiba ‘ankumur rijsa ahlal bait…”.

Beliau lalu berdoa, “Ya Allah, Engkau tdak utus seorang nabi kecuali Kau berikan ia keturunan. Ya Allah, jadikanlah keturunanku dari Ali dan Fatimah!” Setelah itu, beliau keluar dari rumah.

Perasaan Sayyidah Fatimah as di Malam Pengantinnya

Salah satu peristiwa penting dalam kehidupan manusia adalah malam pengantinnya. Malam itu bisa menjadi saat paling manis dari sisi materi dan ruhani atau dikarenakan kelalaiannya untuk mengingat Allah, bisa menjadi malam yang berlumuran dosa baginya.

Selain ia terjerumus dalam dosa, ia pun menyebabkan orang lain bergelimang dalam maksiat. Betapa banyak pria dan wanita yang menjadikan saat ini sebagai dalih untuk berfoya foya dan melakukan hal yang dilarang syariat.

Mereka berpikir bahwa untuk saat semacam ini, Tuhan memberikan izin kepada mereka berpesta pora dan melupakan kewajiban mereka sebagai hamba Nya.

Apakah orang-orang seperti ini bisa disebut sebagai pengikut Ali as? Apakah tindakan semacam ini akan mendekatkan manusia kepada Allah?

Mari kita lihat apa yang dilakukan Ali dan Fatimah as di malam pengantin mereka.

Di malam itu, Ali as melihat Fatimah menangis. Ketika beliau menanyakan sebabnya, Fatimah as menjawab, “Aku memikirkan keadaan dan kelakuanku. Aku teringat hari akhir hidupku dan tempat bernama kubur. Hari ini aku meninggalkan rumah ayahku menuju rumah ini. Kelak aku akan pergi dari rumah ini menuju alam kubur. Dalam awal mula kehidupan bersama ini, aku ingin kita melakukan shalat dan beribadah kepada Allah.”

Inilah manusia yang telah mencapai cinta hakiki tidak akan tertipu oleh cinta semu materi. Ia memilih teman seperjalanan yang tepat hingga lebih cepat sampai ke tujuan. Ia pilih teman hidup yang mampu mencabut segala duri rintangan dan memiliki keberanian dan kelayakan menuju puncak kesempurnaan.

Dua manusia kekasih Nabi saw ini senantiasa bergerak di bawah naungan ubudiyyah dan mengutamakan kelezatan liqoullah di atas kelezatan materi.”

Sumber: Kisah pernikahan imam ali dengan sayyidah fatimah yang kami uraikan diatas, kami kutip dari Dastane Izdevaje Maksumin as (Kisah pernikahan Rasulullah Saw dan Ahlulbaitnya) karya Dr Ibrahim Amuli

Tinggalkan komentar