√ Maqtal Imam Husain: Tragedi Karbala Malam Ke-1

Maqtal Imam Husain: Tragedi Karbala Malam Ke-1

Maqtal Imam Husain: Tragedi Karbala Malam Ke-1 – Maqtal karbala adalah sebuah kronologi tentang kesyahidan cucunda Nabi Muhammad Saw yaitu Imam Husain bin Ali bin Abi Thalib.

Maqtal Imam Husain: Tragedi Karbala Malam Ke-1 Muharram

Sebelum wafatnya, Muawiyah bin Abu Sufyan berwasiat bahwa kekhalifahan berikutnya akan dipegang oleh anaknya, Yazid Bin Muawiyah. Sepeninggal Muawiyah, Gubernur kala itu, Walid bin ‘Utbah menerima perintah untuk memaksa Imam Husain as membaiat Yazid.

Imam Husain as menjawab, “Yazid adalah penenggak minuman keras dan fasik yang menumpahkan darah tanpa hak, penebar kerusakan, dan tangannya telah ternodai oleh darah orang-orang yang tak bersalah. Orang sepertiku tidak akan pernah membaiat orang bejat seperti dia.”

Sang Imam tahu bahwa Walid akan terus memaksanya, maka pada malam tanggal 28 Rajab 60 H, setelah mengucapkan salam pada kakeknya, Rasulullah SAAW, Imam Husain pergi meninggalkan Madinah menuju Makkah bersama mayoritas keluarga dan sebagian sahabat setia beliau. Ia menjelaskan alasan kepergiannya dalam sebuah surat wasiat.

“Saya keluar hanya untuk memperbaiki umat kakekku, Saya ingin melakukan amar makruf dan nahi munkar, serta ingin bertindak seperti tindakan kakekku Rasulullah saw dan Ayahku Ali as.”

Selama tinggal di Mekkah Imam Husain menerima banyak surat dari Kuffah, yang isinya adalah meminta sang Imam untuk datang ke Kuffah guna menghimpun kekuatan dan pengaruh dalam rangka menegakkan kebenaran dan keadilan.

Al Imam mengutus Muslim Bin Aqil, kemenekan Ali Bin Abi Thalib yaitu saudara misannya untuk menjadi wakil dan kepercayaan Imam yang akan melaporkan keadaan yang sebenarnya pada Imam Husain.

Sinar pagi perlahan menguak selaput malam. Muslim putra Aqil meninggalkan kerumunan orang yang mengantar keberangkatannya. Gemuruh pilu di dada Muslim saat meninggalkan Al-Husain dan keluarga beriring deru angin Jazirah.

Dengan bekal kepatuhan pada Al-Husain, Muslim mengarungi lautan fatamorgana, menangkal hujan, sinar mentari dan menerjang badai angin dengan sehelai kain putih diatas kepalanya. Jejak-jejak kudanya meliuk-liuk laksana rajutan sutera. Sesekali ia menyuruh kedua pengawalnya berhenti dan bersandar dibawah pohon kurma.

Sesampainya di Kuffah, Muslim diterima dengan sangat baik, derap kaki kuda Muslim dan rekan-rekannya terhadang oleh gelombang manusia yang berdesakan menyongsong kedatangannya. Muslim dikawal laksana pangeran menuju rumah pendukung utama Al-Husain, al-Mukhtar bin Abi Ubaid ats-Tsaqafi.

Berita tentang kedatangan duta Al-Husain merebak ke seluruh penjuru dan pasar utama kota Kuffah. Begitu derasnya berita itu mengalir hingga seakan-kan menggoyng tiang-tiang istana Nu’man bin Basyir, Gubernur Kuffah. Ia segera menyeru warganya untuk berkumpul dan memberikan ultimatum

“Disiniaku hanya ingin menegaskan dan mengingatkan kalian agar menghindari fitnah dan keonaran yang meresahkan. Jika berita dan desas-desus tentang rencana dan persengkokolan kalian itu benar, maka aku tidak akan duduk santai sebelum kalian mendapatkan pembalasan berupa penjara atau baju baru berwarna putih, kafan!!”

Ancaman Nu’man perlahan-lahan berhasil menggoyahkan keteguhan dan tekad warga kuffah. Mereka mulai enggan mengunjungi Muslim bin Aqil. Gelagat-gelagat pengkhianatan mulai terlukis jelas di wajah-wajah mereka. Ada yang berpura-pura tak mengenalnya, ada yang merasa tak turut mengundangnya.

Ada pula yang menyangsikan kekuatan para pendukung Al-Husain, yaitu Habib bin Mazahir, Sulaiman bin Shard, Hani bin ‘Urwah, Zuhair bin al Qin, dan Muslim bin Aswijah yang sedang duduk mengelilingi Muslim bin Aqil tampak lesu dan malas berbicara. Mereka sangat menyayangkan dan mengumpat warga kotanya yang plin-plan dan pengecut.

Perintah penangkapan Muslim bin Aqil dan yang menyembunyikannya dikeluarkan oleh Gubernur baru Kuffah, Ubaidillah Bin Ziyad. Hingar-bingar sambutan dukungan kini tak terdengar lagi di sekelilingnya. Sebagian besar warga Kuffah telah mengoyak-ngoyak hati nuraninya sendiri. Kemenekan Ali itu terjaga dan matanya terbelalak ketika telinganya mendengarkan bisikan bocah lelaki.

“Tuan, Tuan, mengapa Anda tidur di surau ini sendirian dan lusuh? Apakah Anda Sakit? Dan siapakah Anda?”

“Aku memang kehausan, letih, dan kecewa, Aku adalah utusan Al-Husain dari Mekkah, sedangkan bekalku sudah habis, karena dulu yang mengundang Al-Husain, kini meninggalkanku disini.”

“Siapakah nama Anda?”

“Aku Muslim Bin Aqil bin Abi Thalib.”

“Aku sungguh bersimpati pada Anda.”

Suara halus itu telah memporak-porandakan keteguhan hati Muslim. Remaja kecil itu dipeluknay erat-erat sembari membiarkan air matanya berlinang membasahi wajahnya seraya berkata, “ Semoga kau dikumpulkan bersama Rasulullah dan Ahlul baitnya kelak, nak!”

Dengan langkah berat dan napastersendat, bocah berhati salju itu meninggalkan Muslim dalam kesendiriannya.

Duta Al-Husain itu kembali melanjutkan perjalanannya, lorong demi lorong ia jelajahi, rasa letih telah menghentikan langkahnya tepat di sebuah pintu sebuah rumah yang cukup bersahaja. Hani bin ‘Urwah. Al-Husain dimohon untuk bersinggah dan menemui Hani bin ‘Urwah yang sedang sakit.

Ucapan salam dari Muslim dibalas Hani dengan suara parau disusul batuk beruntun. Lelaki itu berusaha bangkit dari ranjangnya lalu memeluk Muslim.

“Saya sebagai pemuka masyarakat kota Kuffah, sangat malu dan terpukul oleh sikap khianat mereka, aku akan menebus rasa malu ini dengan caraku sendiri” ujar Hani dengan mata berkaca-kaca.

“Dengan cara bagaimana?” tanya Muslim penasaran

“Begini, Ubaidillah adalah teman lamaku, jika ia mendengar berita tentang sakit ku, aku yakin ia akan menyisihkan waktu untuk menjengukku, apalagi ia baru saja menjadi gubernur disini, dan aku adalah toko masyarakat. Aku akan mengutus seseorang untuk menceritakan padanya perihal sakitku.” Papar Hani agak bersemangat.

“Mengapa Anda memancingnya untuk datang ke rumah ini, sedangkan aku adalah utusan Al-Husain yang dicari-carinya?” tanya Muslim terheran-heran.

“Itu adalah saat yang tepat untuk menghabisinya, sekarang sebaiknya Anda bersembunyi di ruang sebelah yang tertutup tirai itu sambil menuggu isyaratku. Bila kulepas sorbanku, lalu kuletakkan diatas permadani, maka lompatlah segera ke arahnya dan ayungkan pedangmu.”

Sesaat kemudian kabar tentang sakitnya Hani bin ‘Urwah telah menyebar hingga istana Ubaidillah. Azan maghrib baru selesai berkumandang tatkala Ibnu Ziyad dan beberapa pengawalnya melintasi jalan menuju rumah Hani bin ‘Urwah.

“Semoga kau sembuh segera” ujar Ibnu Ziyad lembut sambil memeluk Hani.

“Aku memang sudah tua, sakit adalah bagian dari hidupku kawan. Adalah suatu kehormatan dan obat paling manjur bila seorang rakyat jelata yang sakit dijenguk oleh pejabat tinggi.”

Pembicaraan menggelinding dengan lancar hingga menyangkut Muslim bin Aqil dan perintah Khalifah Yazid. Sementara para pengawal berjaga-jaga diluar dan memblokir setiap jalan yang bersambung ke rumah sesdehana itu.

Langit makin kelam, Hani yang sedang mendengarkan lelucon-lelucon Ubaidillah, sekonyong-konyong melepas sorbannya lalu meletakkannya diatas permadani kumal yang terhampar di ruang tamu itu. Gubernur baru Kuffah itu tidak merasa terusik oleh gerak aneh sahabatnya.

Sambil tetap berusaha dan ikut tertawa, ketika tamunya tertawa. Hani menanti dengan cemas tindakan Muslim dari balik tirai. Penantian yang mengeringkan tenggorokan itu berjalan cukup lama, namun tak ada gerak sekecil apapun dari ruang gelap itu.

Rasa waswas dalam diri Hani kian memebesar. Tanpa sadar wajahnya menoleh kearah persembunyian. Gelagat ganjil itu sempat memancing gelagat heran tamunya. Suasana berubah, muka Hani tampak tegang, reaksi Muslim bin Aqil tak kunjung muncul. Lelaki tua itu menarik napasnya dalam-dalam lalu menghembuskannya, adegan aneh ini terulang beberapa kali, perlahan-lahan Ibnu Ziyad curiga

Betapa terperanjat Hani ketika mendadak sontak Ibnu Ziyad bangkit dari duduknya lalu memoho diri. Sebelum meninggalkan halaman rumah temannya, pintu rumah ditutup kembali. Hani menghampiri Muslim.

“ Apa yang membuat Tuan mengurungkan rencana matang kita?”

“Sulit bagiku untuk melakukannya. Aku masih ragu apakah ia seorang kafir yang harus dibunuh. Lagipula patutkah aku menyerang seseorang dari belakang dan dalam posisi yang tidak siap.”tangkis Muslim yang seraya mengusap wajahnya yang berpeluh.

“Tuanku Muslim, ia adalah orang kafir yang patut dibunuh,”tukas Hani agak kecewa

Muslim tertunduk, sepi kembali merambati rumah dan seluruh kampung, dan malampun larut

Di aula istana, Ubaidillah bin Ziyad sedang mengadakan rapat berasama para penasihatnya. Ia mengutus Ma’qal untuk menyusup mencari berita tentang tempat persembunyian Muslim bin Aqil .

Pagi menjelang meninggalkan subuh, Ma’qal meninggalkan halaman istana dan memulai misi penyamarannya. Dengan menggunakan pakaian yang lazim digunakan oleh para darwisy, Ma’qal mulai menjelajahi setiap kedai di pasar dan akhirnya bertemu dengan Muslim bin Aswijah.

Setelah bersusah payah meyakinkan Muslim bin Aswijah bahwa ia adalah pecinta keluarga Nabi, akhirnya Ma’qal bertemu dengan Muslim bin Aqil.

Ia berusaha bergaul secara akrab dengan Muslim dan para pendukungnya. Betapa sikap Ma’qal sangat memikat sampai-sampai ia ditunjuk sebagai bendahara yang bertugas membeli senjata, kuda dan seluruh keperluan kelompok bawah tanah itu.

Nyanyian satwa malam mengalun iringi desir sahara ketika Ibnu Ziyad menanti orang yang dinanti-nantikannya. Ma’qal menceritakan liku-liku penyamarannya kepada majikannya. Cerita itu membuat Ubaidillah terbahak-bahak. Ia memerintahkan pengawalnya untuk menyeret Hani bin ‘Urwah.

Sesampai di Istana, ada sesuatu yang buruk terlintas dibenaknya ketika ucapan salamnya tidak dibalas oleh Ubaidillah.

“Kawan, apa yang menyebabkan Anda bersikap dingin?” tanya Hani sopan

“Ternyata kau bukan sahabatku,” sergahnya sambil mengelus jenggot

“ Ketahuilah berrita buruk tentang diriku yang telah sampai ke telinga Anda sama sekali tidak benar,” bantah Hani. Suasana terasa amat tegang.

“Aku akan mengahdirkan saksi mata yang dapat membuktikan kebohonganmu. Kau menyembunyikan Muslim dan menyimpan banyak senjata,” sergah Ibnu Ziyad

Sesaat kemudian wajah seseorang yang cukup dikenalnya keluar dari balik tabir seraya menyeringai.  “Kini lenyaplah alasanmu untuk membual,” Ujar Ma’qal.

“Pengkhianat kau binatang busuk!” pekik Hani sambil menunjuk wajah Ma’qal yang masih menyeringai mencibirnya.

Suara keras Hani membuat Ibnu Ziyad dan seluruh yang ada di istana terkesima.

“Hai terkutuk anak manusia, kebahagiaan abadi dan kematian adalah dua hal yang takdapat dipisah! Jangan kira aku takut mati! Telah lama kunantikan kesempatan ini.” Tantang Hani sembari menjulurkan tangan kanannya ke arah Ibnu Ziyad.

Hani spontan bangkit sekuat tenaga lalu menyambar pedang petugas istana. Suasana kacau. Ubaidillah lari terbirit-birit meninggalkan ruang berdarah itu.

Hani menari-narikan pedangnya dengan lincah dan menebas setiap leher yang terjangkau olehnya. Satu demi satu petugas istana roboh, satu demi satu prajurit pilihan Ibnu Ziyad tewas. Hani terlalu gesit untuk ukuran orang tua seusianya.

Segesit apapun Hani yang seorang diri, tidak akan mampu bertahan menghadapi serbuan puluhan tentara yang mengepungnya. Sebuah sabetan pedang dari arah belakang menghentikan geraknya. Putra ‘Urwah itu terjungkal membentur lantai, ia mengerai dan merintih kesakitan.

Ibnu Ziyad yang menggenggam sepotong tongkat membelah barisan pasukan yang melingkar. Sambil menginjakkan kaki kanannya ke dada lelaki yang tak berdaya itu, Ubaidillah menyeringai lalu menghantamkan kayu panjang itu ke kepalanya. Perlahan-lahan kepala itu merekah, Wajahnya koyak, teriakan panjang meyobek keheningan malam.“Yaaa Aba ‘Abdillaahh.. Ya Husain..”

Hani diseret lalau dicampakkan. Ia menyongsong kesyahidan. Innalillahi wa inna ilaihi roji’un..

Muslim yang sejak beberapa hari belakangan ini sendirian tertunduk lesu. Matanya berkunang-kunang, peluh mengguyur badannya, rongga lehernya terasa sangat kering menelan kekecewaan.

Muslim sangat sedih dan menyesal telah mengirimkan surat kepada Al-Husain dan melaporkan bahwa warga Kuffah benar-benar mendukung beliau.

Kini terbukti pengkhianatan mereka. Muslim tidak dapat mengirimkan surat susulan tentang perubahan yang terjadi saat ini di Kuffah. Ia berjalan terus menuju kampung Al-Hairah.

Ia dimohon singgah oleh sorang wanita tua, Muslim khawatir kehadirannya akan menyulitkan Ibu itu, namun dengan sangat bangga dan gembira, sang Ibu menjamu utusan Al-Husain itu.

Ternyata putra wanita tua itu adalah petugas istana, hatinya mulai gundah. Ibu meminta anaknya agar merahasiakan keberadaan Muslim. Malam itu pun Muslim terjaga dalam tidurnya. Keesokan harinya, selepas Subuh, wanita tua itu menyuguhkan nampan berisikan roti, kurma dan segelas air.

“Tuan Muslim, saya khawatir anak itu melaporkan keberadaan Anda disini, sebab saya tidak menemukannnya di kamarnya. Andaikan benar dugaan dan kekhawatiran saya, sungguh malu saya menjadi ibunya.” Keluhnya sedih.

“Ibu, ketahuilah, kematian dalam membela Al-Husain bukanlah suatu yang perlu dihindari. Kesempatan mati sebagai syahid sangatlah langka, sejak lama saya menantikannya. Kini tibalah kesempatan berharga itu. Ibu, jangan mengkhawatirkan keselamatan saya.” Ujar Muslim menghibur.

Benar dugaan wanita itu, putranya telah mengabarkan keberadaan Muslim Bin Aqil.  Pasukan Ibnu Ziyad mengepung rumahnya. Wanita pecinta ahlul bait itu hanya diam dan menyorotkan mata penuh benci kepada putranya.

“Hai Muslim, lemparkanlah pedangmu ke tanah!” teriak Ibnu Asy’ats, sang koamnadan.

Muslim tak mempeduliakan seruan itu, bahkan mengeluarkan tangannya dari belakang punggung sambil menari-narikan pedangnya. Sekonyong-konyong saudara misan Al-Husain itu melompat menerjang pasukan. Satu, dua, hingga tujuh kepala serdadu Ibnu Ziyad berjatuhan.

Kuda-kuda meringkik dan berlarian. Tiba-tiba seorang bertubuh besar menyeruak dari barisan menghadang Muslim dengan menghunuskan pedang. Dialah, Bakr bin Himran.

Pertarungan antara dua lelaki itu pun digelar. Muslim memanfaatkan tangan kiri dan dua kakinya sebagai senjata tambahan. Kaki kanannya dengan cepat bersarang ke ulu hati Bakr. Ia tersungkur dan pedangnya terpelanting. Pasukan musuh terhenyak menyaksikan kehebatan Muslim.

Mereka serentak menyergapnya. Lelaki berlumuran darah itu berusaha menghalau dengan tarian pedangnya. Gerak lincahnya mulai hilang, sekonyong-konyong sebuah benda tumpul menghantam ubun-ubunnya. Muslim terjungkal sebelum diseret, Ia menangis.

“Hai apa yang membuatmu menangis, mengapa kau tiba-tba menjadi cengeng?” tanya Al-Asy’ats menyingrai.

“Hai budak Yazid, aku menangis bukan karena takut pada majikanmu, tapi aku menyesal karena telah memberitahu Al-Husain bahwa warga Kuffah benar-benar menanti kedatangannya.” Balasnya lirih.

Ibnu Al Asy’ats menyuruh pasukannya menyeret Muslim hingga tangga istana Ubaidillah. Darahnya menetes sepanjang jalan. Warga kuffah menyaksikan kejadian itu dari jendela rumah.

Tubuh kemenekan misan Rasulullah itu diseret menyusuri anak-anak tangga menara. Ketika hitungan hadirin sampai pada angka tiga, para pengawal dengan serempak mendorong punggung Muslim bin Aqil . Utusan Al-Husain itu diterjunkan dari atas atap istana, melayang dan berputar-putar beberapa detik di udara.

Debam suara benda padat terdengar keras membentur pelataran, disusul dengan gemertak tulang-tulang bertabrakan. Para algojo berebut untuk memisahkan kepla Muslim yang sekarat dari tubuhnya. Innalillahi wa inna ilaihi roji’un.

Salam atasmu wahai Penghulu Surga..

Salam atasmu duhai putra Rasul..

Salam atasmu duhai putra Azzahra..

Tinggalkan komentar