√ Psikologi Belajar: Pengertian, Fungsi dan Manfaat Mempelajarinya - Musoffa Asad

Psikologi Belajar: Pengertian, Fungsi dan Manfaat Mempelajarinya

Psikologi Belajar – pada artikel ini kita akan membahas tentang hakikat psikologi belajar yang meliputi makna dan pentingnya psikologi belajar, tujuan dan fungsi psikologi belajar, dan manfaat mempelajari psikologi belajar.

“Psikologi” berasal dari perkataan Yunani “psyche” yang artinya jiwa dan “logos” yang artinya ilmu pengetahuan. Secara etimologi psikologi artinya Ilmu yang mempelajari tentang jiwa, baik mengenai macam-macam gejalanya, prosesnya maupun latar belakangnya.

Namun, para ahli juga berbeda pendapat tentang arti psikologi itu sendiri. Ada yang berpendapat bahwa psikologi adalah ilmu jiwa. Tetapi ada pula yang berpendapat bahwa psikologi adalah ilmu tentang tingkah laku atau perilaku manusia. (Mahfud, 1992: 6)

Carl Gustav Jung, seorang psikoanalisis dari Switzerland (1875-1961) merupakan salah seorang sarjana yang banyak mencurahkan perhatiannya untuk menyelidiki arti kata psikologi ditinjau dari segi harfiahnya. la mencoba mencari arti dari kata “Psyche” dan arti katakata lain yang berdekatan misalnya, ia tertarik pada kata “Anemos” dalam bahasa Yunani berarti angin, sedangkan dalam bahasa Latin kata “animus” dan “anima” masing-masing berarti jiwa dan nyawa.

Dalam bahasa Arab, ia mendapatkan kata-kata “ruh” yang berarti jiwa, nyawa ataupun angin. Dengan demikian, ia menduga bahwa ada hubungan antara apa yang bernyawa dengan apa yang bernafas (angin). Jadi psikologi adalah ilmu tentang sesuatu yang bernyawa.

Ada sebagian ahli psikologi yang mendefinisikan psikologi bertitik tolak dari anggapan bahwa psikologi haruslah mempelajari sesuatu yang nyata (konkret), maka ada sebagian sarjana yang mengartikan psikologi sama dengan karakterologi atau tipologi.

Karakterologi adalah ilmu tentang karakter atau sifat kepribadian dan tipologi adalah ilmu tentang berbagai tipe atau jenis manusia berdasarkan karakternya. Jelas pendefinisian psikologi sebagai karakterologi atau tipologi saja merupakan pendefinisian yang sempit.

Memang psikologi juga mencakup karakterologi dan tipologi, tetapi psikologi bukan hanya mencakup kedua hal itu saja, melainkan lebih luas daripada itu. (1991: 5-7) Bertolak dari definisi psikologi bahwa jiwa itu selalu diekspresikan melalui raga atau badan.

Dengan mempelajari ekspresi yang tampak pada tubuh seseorang, maka kita akan dapat mengetahui keadaan jiwa orang yang bersangkutan. Bila berbicara tentang jiwa, terlebih dahulu kita harus membedakan antara nyawa dan jiwa.

Nyawa adalah daya jasmaniah yang adanya tergantung pada hidup jasmani dan menimbulkan perbuatan badaniah (organic behavior), yaitu perbuatan yang ditimbulkan oleh proses belajar. Misalnya, instink, reflek, nafsu dan sebagainya. Jika jasmani mati, maka mati pulalah nyawanya.

Sedang jiwa adalah daya hidup rohaniah yang bersifat abstrak, yang menjadi penggerak dan pengatur perbuatan perbuatan pribadi (personal behavior) dari hewan tingkat tinggi dan manusia. Perbuatan pribadi adalah perbuatan sebagai hasil proses belajar yang dimungkinkan oleh keadaan jasmani, rohaniah, sosial, dan lingkungan.

Karena sifatnya yang abstrak, maka kita tidak dapat mengetahui jiwa secara wajar, melainkan kita hanya dapat mengenal gejalanya saja. Jiwa adalah sesuatu yang tidak nampak, tidak dapat dilihat oleh alat diri kita. Demikian pula hakekat jiwa, tak seorangpun dapat mengetahuinya.

Manusia dapat mengetahui jiwa seseorang hanya dengan tingkah lakunya. Jika tingkah laku itu merupakan kenyataan jiwa yang dapat kita hayati dari luar. Pernyataan itu kita namakan gejala-gejala jiwa, di antaranya;  mengamati, menanggapi, mengingat, memikir, dan sebagainya.

Dari itulah kemudian orang membuat definisi, ilmu jiwa (psikologi) yaitu ilmu yang mempelajari tingkah laku manusia dalam hubungan dengan lingkungannya.

Objek Pembahasan Psikologi

Objek psikologi (ilmu jiwa) yaitu jiwa. Apakah sebenarnya jiwa itu? Telah dijelaskan sebelumnya bahwa jiwa adalah abstrak, tidak dapat dilihat, didengar, dirasa, dicium, atau diraba dengan panca indera kita. Karena itulah, pada mulanya ia diselubungi oleh rahasia dan pertanyaan ghaib, yang oleh ahli-ahli pada zaman itu dicoba menerangkan dan menjawabnya dengan pandangan dan tinjauan filosofis dan metafisis.

Ditinjau dari segi objeknya, Ahmadi (1991: 6-7) membagi psikologi menjadi tiga bagian:

  • Psikologi Metafisika. (meta = di balik, di luar; fisika = alam nyata).

Yang menjadi objek adalah hal-hal yang mengenai asal usulnya jiwa, wujudnya jiwa, akhir jadinya sesuatu yang tidak berujud nyata dan tidak pula diselidiki ilmu alam biasa atau fisika. Karena itu, dinamakan psikologi metafisika.

  • Psikologi Empiris. (empiris = pengalaman)

Aliran empirisme, dipelopori oleh Bacon dan John Locke. Menurut ahli-ahli empiris ini, ilmu jiwa harus berdasarkan pengalaman. Semua peristiwa diamati, dikumpulkan dan dari hasil pengamatan nyata itu diambil suatu kesimpulan.

Sehingga Bacon dianggap sebagai bapak metode induktif. Dalam hal ini, John Locke mengatakan bahwa jiwa adalah bagaikan kertas putih bersih yang dapat dilukis dengan adanya pengalaman. Karena psikologi ini mempelajari gejala-gejala jiwa yang nyata dan positif, maka psikologi ini disebut psikologi positif.

Psikologi empiris dalam mengumpulkan data kadangkadang mempergunakan percobaan atau eksperimen, maka psikologi empiris juga dinamakan psikologi eksperimen.

  • Psikologi Behaviorisme (behavior = tingkah laku)

Menurut aliran ini psikologi ialah pengetahuan yang mempelajari tingkah laku (behavior) manusia. Aliran ini timbul pada abad 20, dipelopori oleh Mac Dougal. Behaviorisme tidak mau menyelidiki kesadaran dan peristiwa peristiwa psikis, karena hal ini adalah abstrak, tidak dapat dilihat sehingga tidak dapat diperiksa dan dipercayai.

Oleh sebab itu, ahli-ahli paham ini memegang teguh prinsip-prinsip:

  1. Objek psikologi adalah behavior yaitu gerak lahir yang nyata, atau reaksi-reaksi manusia terhadap perangsang-perangsang tertentu.
  2. Unsur behavior adalah refleks, yaitu reaksi tak sadar atas perangsang dari luar tubuh. Oleh karena itu, psikologi ini dikenal dengan nama behaviorisme.

Pengertian Psikologi Belajar

Sebelum mengambil kesimpulan tentang pengertian “Psikologi Belajar”, ada baiknya dipelajari dari beberapa pengertian yang telah dirumuskan oleh para ahli tentang “Psikologi Pendidikan” sebagai berikut: (Mahfud, 1991: 12-15)

  • Lister D. Crow and Alice Crow, Ph. dalam bukunya “Educational Psychology” menyatakan bahwa psikologi pendidikan ialah Ilmu pengetahuan praktis yang berusaha untuk menerangkan belajar sesuai denganprinsip-prinsip yang ditetapkan secara ilmiah dan fakta-fakta sekitar tingkah laku manusia.
  • W.S. Winkel dalam bukunya “Psikologi Pendidikan dan Evaluasi Belajar” menyatakan bahwa psikologi pendidikan adalah salah satu cabang dari psikologi praktis yang mempelajari prasarat-prasarat (fakta- fakta) bagi belajar di sekolah berbagai jenis belajar dan fase-fase dalam semua proses belajar. Dalam hal ini, kajian psikologi pendidikan sama dengan psikologi belajar.
  • James Draver, dalam “Kamus Psikologi”. Psikologi Pendidikan (Educational Psychology); adalah cabang dari psikologi terapan (applied psychology) yang berkenaan dengan penerapan asas-asas dan penemuan psikologis problema pendidikan ke dalam bidang pendidikan.
  • H. Carl Witherington, dalam bukunya “Educational Psychology”. Psikologi Pendidikan; adalah suatu studi tentang prosesproses yang terjadi dalam pendidikan.
  • Belajar dapat didefinisikan sebagai aktivitas yang dilakukan individu secara sadar untuk mendapatkan sejumlah kesan dari apa yang telah dipelajari sebagai hasil dari interaksinya dengan lingkungan sekitarnya. Aktivitas di sini dipahami sebagai serangkaian kegiatan jiwa raga, psikofisik, menuju ke perkembangan pribadi individu seutuhnya, yang menyangkut unsur cipta (kognitif), rasa (afektif), dan karsa (psikomotorik).
    (2002: 2)

Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa psikologi belajar adalah ilmu pengetahuan yang berusaha mempelajari, menganalisis prinsip-prinsip perilaku manusia dalam proses belajar dan pembelajaran.

Tujuan dan Fungsi Psikologi Belajar dalam Pembelajaran Tujuan Mempelajari Psikologi Belajar

Pekerjaan guru lebih bersifat psikologis daripada pekerjaan seorang dokter, insinyur, atau ahli hukum. Untuk itu, guru hendaknya mengenal siswa/siswinya serta menyelami kehidupan kejiwaan siswa/siswi di sepanjang waktu dengan memperhatikan karakteristik psikologis laki-laki dan perempuan serta keragaman sosial.

Dahulu orang menyangka bahwa orang gila itu disebabkan oleh badannya kemasukan setan, tetapi orang sekarang sudah berubah pendapatnya. Dahulu orang menyangka bahwa orang berbuat kejahatan itu hanya terdapat pada orang-orang dewasa saja, tetapi sekarang orang berpendapat bahwa kejahatan itu juga terdapat pada anak-anak.

Dahulu orang sering marah terhadap anaknya apabila tidak mau belajar, tetapi ahli-ahli psikologi sekarang tidak demikian.

Apa sebab ahli-ahli psikologi tidak marah terhadap anak yang tidak mau belajar? Sebab ahli-ahli psikologi sudah mengetahui jiwa anaknya. Mungkin pelajaran yang diberikan kepada anaknya itu tidak sesuai dengan jiwa dan bakat anak. Karenanya anak tidak mau dan segan belajar.

Dan dulu, anak laki-laki dicitrakan sebagai jenis kelamin yang lebih unggul dari anak perempuan sehingga persepsi guru terhadap pembelajaran menjadi bias gender. Sekarang, anak lakilaki dan perempuan dicitrakan sam sebagai makhluk setara sehingga akses dan partisipasi akan pembelajaran harus diberikan secara setara dan adil.

Di samping tersebut di atas, psikologi juga sangat penting bahkan sangat erat hubungannya dalam dunia pendidikan, misalnya:

Ali mengajar si B matematika. Di sini ada dua obyek yaitu:

  • Ali harus mengetahui jiwa si B
  • Ali harus mengetahui pengetahuan matematika.

Oleh karena adanya ilmu jiwa, maka timbullah soal-soal penting di dalam mengajar dan mendidik. Sebab soal mengajar dan mendidik harus benar-benar mengetahui jiwa seseorang.

Mencermati uraian di atas, maka psikologi belajar diperlukan bagi guru bahkan orang yang terlibat dalam dunia pendidikan agar mereka lebih mampu mengambil putusan dan memecahkan masalah-masalah pembelajaran dengan baik.

Psikologi belajar juga memberikan kontribusi yang besar bagi guru ketika ia menjalankan tugas mengajar di kelas, sehingga performansinya selalu mempertimbangkan prinsip psikologis siswa maupun siswi.

Setiap guru dan calon guru yang ingin membimbing belajar dan proses penyesuaian siswa/siswinya, harus memenuhi syarat sebagai berikut:

  • Ia harus memiliki secara luas prinsip psikologi yang dapat menjelaskan perilaku siswa/siswinya dan perilaku manusia pada umumnya.
  • Ia harus memiliki teknik dalam mempelajari siswa/siswi, agar ia dapat menentukan prinsip-prinsip untuk menguasai perilaku siswa/siswi dalam situasi-situasi tertentu.
  • Ia harus mampu menganalisis cara-cara mengajar dan belajamya dengan karakter dan gaya yang beragam tetapi targetnya diharapkan tercapai dengan maksimal.

Psikologi belajar akan sangat membantu guru, supaya memiliki kedewasaan dan kewibawaan dalam hal mengajar, mempelajari muridnya, menggunakan prinsip-prinsip psikologi maupun dalam hal menilai cara mengajarnya sendiri. Dengan demikian, tujuan mempelajari psikologi belajar adalah: (Mahfud, 1991: 10)

  • Untuk membantu para guru agar menjadi lebih bijaksana dalam usahanya membimbing murid dalam proses pertumbuhan belajar.
  • Agar para guru memiliki dasar-dasar yang luas dalam hal mendidik, sehingga murid bisa bertambah baik dalam cara belajamya.
  • Agar para guru dapat menciptakan suatu sistem pendidikan yang efisien dan efektif dengan jalan mempelajari, menganalisis tingkah laku murid dalam proses pendidikan untuk kemudian mengarahkan proses-proses pendidikan yang berlangsung, guna meningkatkan ke arah yang lebih baik.

Fungsi Psikologi Belajar dalam Pembelajaran

Menurut Gage & Berliner (2005: 6-8), psikologi belajar memiliki beberapa fungsi, yaitu untuk menjelaskan, memprediksikan, mengontrol fenomena (dalam kegiatan belajar mengajar), dan dalam pengertiannya sebagai ilmu terapan juga memiliki fungsi merekomendasikan.

Psikilogi belajar berfungsi memberikan pemahaman mengenai sifat dan keterkaitan berbagai aspek dalam belajar dan pembelajaran. Dalam hal ini psikologi belajar mengkaji konsep mengenai aspek perilaku manusia yang terlibat dalam belajar dan pembelajaran, serta lingkungan yang terkait.

Sebagaimana dijelaskan bahwa perilaku siswa/siswi terkait dengan konsep-konsep tentang pengamatan dan aktivitas psikis (intelegensi, berpikir,motivasi), gaya belajar, individual defferencies, dan pola perkembangan individu.

Sedangkan perilaku guru terkait dengan pengelolaan pembelajaran kelas, metode, pendekatan, dan model mengajar. Lebih lanjut, aspek lingkungan yang terkait dan berperan dalam aktivitas belajar-pembelajaran yakni lingkungan sosial dan instrumental.

Di samping fungsi pemahaman, psikologi belajar berfungsi memberikan prediksi-prediksi berkenaan saling terlibatnya aspekaspek dalam belajar-pembelajaran. Terjadinya perubahan dalam satu aspek akan berpengaruh pada aspek lainnya.

Misalnya, tingkat intelegensi dan motivasi individu dapat dipergunakan untuk memprediksikan prestasi belajar yang akan dicapai. Selanjutnya, keadaan fisik dan kondisi psikologis anak dapat memprediksikan kemungkinan kesulitan yang akan ditemui dalam proses belajarnya.

Dengan demikian, guru dapat melakukan upaya-upaya pemberian bantuannya.

Fungsi pengendalian atau mengontrol terkait dengan manipulasi yang mungkin dibuat. Tentu kita memahami bahwa pengetahuan anak tentang lingkungan tempat tinggal diperoleh dari mata pelajaran Pengetahuan Sosial (PS).

Bilamana ada di antara topik-topik tertentu tidak diajarkan, maka mereka tidak memiliki pengetahuan tentang topik-topik itu. Guru dapat merekayasa sekelompok anak yang diberi perlakuan tertentu (pembelajaran PS), sedangkan sekelompok yang lain tidak, sehingga dapat diketahui perbedaan hasilnya.

Dengan demikian, pengetahuan murid mengenai pengetahuan sosial dikontrol dengan pembelajaran. Fungsi psikologi belajar rekomendatif. Sebagai ilmu terapan, psikologi belajar tidak hanya memberikan wawasan konseptual terkait dengan fenomena belajar-pembelajaran, tetapi menyediakan sejumlah rekomendasi untuk praktik pembelajaran.

Meskipun rekomendasi tersebut berupa rambu-rambu umum, tidak secara akurat berkonsekuensi dengan masalah yang dihadapi guru. Rekomendasi tidak secara langsung ditujukan pada kasus per kasus mesalah pembelajaran, tetapi saran dan pertimbangan rekomendatif yang diajukan diharapkan tetap dapat dijadikan pedoman bagi guru untuk mengambil keputusan instruksionalnya.

Rekomendasi dalam pengambilan keputusan itu dikaitkan dengan komponen pembelajaran. Mengenai hal ini, Gage & Berliner menggolongkan nya menjadi lima hal utama, yaitu: dalam menentukan dan mengorganisasikan tujuan pembelajaran; memahami karakteristik murid; memahami bagaimana belajar itu terjadi dan upaya membangkitkan motivasi murid; memilih dan melaksanakan metode pembelajaran efektif; dan melaksanakan penilaian yang tepat.

Dengan demikian, psikologi belajar dapat membantu guru untuk memahami bagaimana individu belajar, yang tercakup di dalamnya adalah pengertian dan ciri-ciri belajar serta bentuk dan jenis belajar.

Dengan mengetahui individu belajar maka kita dapat memilih cara yang lebih efektif untuk membantu memberikan kemudahan, mempercepat, dan memperluas proses belajar individu.

Manfaat Mempelajari Psikologi Belajar

Psikologi belajar amat penting bagi setiap orang, akan sangat terasa betapa pentingnya pengetahuan tentang psikologi belajar itu, apabila seorang guru diserahi tanggung jawab sebagai pemimpin, baik pemimpin perkumpulan keagamaan, perkumpulan olah raga, kesenian, sekolah dan sebagainya.

Semuanya itu akan kurang sempurna jika tidak dilengkapi dengan psikologi, agar dapat melaksanakan kepemimpinan itu dengan sebaik-baiknya. Sebab dalam menjalankan kepemimpinan itu kita akan dihadapkan kepada pertanyaan-pertanyaan seperti, bagaimana seorang pemimpin dalam memimpin bawahannya, supaya dapat bekerjasama untuk mencapai tujuan bersama?

Bagaimana pula kita mempengaruhi mereka agar dapat bekerja untuk mencapai tujuan dan hasil yang baik? Apa pula sesuatu yang dapat kita lakukan apabila kita memperhatikan seseorang tertentu? Bagaimana cara-cara melayani mereka yang berlain-lainan sifat, watak dan kepribadiaan nya?

Sesuaikah sikap dan tindakan kita sendiri terhadap kelompok dan anggota-anggota yang kita pimpin itu? Pertanyaan-pertanyaan ini akan dapat dijawab dengan mudah, jika didasarkan atas pengetahuan psikologi dan pengalaman-pengalaman praktek dalam kependidikan.

Dari ilustrasi di atas semakin jelas kiranya bahwa pengetahuan psikologi dan khususnya psikologi belajar, amat berguna bagi setiap manusia. Adapun manfaat psikologi belajar (1991: 15) sebagai berikut:

  1. Meletakkan tujuan belajar,
  2. Mengatur kondisi-kondisi belajar yang efektif,
  3. Mencegah terjadi dan berkembangnya gangguan-gangguan mental dan emosi,
  4. Mempertahankan adanya kesehatan jiwa yang baik,
  5. Mengusahakan berkembangnya daya mampu dan daya guna dari kondisi jiwa sehat yang ada,
  6. Memberikan berbagai informasi yang diperlukan dalam proses belajar,
  7. Membantu setiap siswa/siswi dalam mengatasi masalah-masalah pribadi yang dihadapi,
  8. Mengenal dan memahami setiap siswa/siswi baik secara individual maupun secara kelompok.

Chaplin (1972) menitikberatkan manfaat atau kegunaan mempelajari psikologi belajar untuk memecahkan masalah-masalah yang terdapat dalam dunia pendidikan dengan cara menggunakan metode-metode yang telah disusun secara rapi dan sistematis.

Kemudian Lindgren (1985) berpendapat bahwa manfaat mempelajari psikologi belajar ialah untuk membantu para guru dalam mengembangkan pemahaman yang lebih baik mengenai proses pembelajaran.

Secara umum manfaat dan kegunaan psikologi belajar menurut Muhibinsyah (2003: 18) bahwa psikologi belajar merupakan alat bantu yang penting bagi penyelenggara pembelajaran untuk mencapai tujuan pembelajaran.

Psikologi belajar dapat dijadikan landasan berpikir dan bertindak bagi guru, konselor, dan juga tenaga profesional kependidikan lainnya dalam mengelola proses pembelajaran. Sedangkan proses pembelajaran tersebut adalah unsur utama dalam pelaksanaan setiap sistem pendidikan.

Manfaat dan kegunaan psikologi belajar juga membantu untuk memahami karakteristik murid apakah termasuk anak yang lambat belajar atau yang cepat belajar, dengan mengetahui karakteristik ini diharapkan guru dapat merancang dan melaksanakan pembelajaran secara optimal.

Misalnya, ketika seorang guru mengajar matematika pada siswa/siswi kelas I MI kemudian ada salah seorang muridnya yang selalu jalan-jalan dan mengganggu temannya, maka seorang guru harus tanggap dan menelusuri karakteristik muridnya, mengapa dia berbuat seperti itu, apakah dikarenakan dia sudah faham dengan materi tersebut atau sebaliknya.

Kesimpulan

Dari pembahasan diatas, kita dapat meyimpulkan bahwa:

  1. Psikologi belajar adalah ilmu yang mempelajari prinsip-prinsip perilaku manusia dalam penerapannya bagi belajar dan pembelajaran. Dengan kata lain, psikologi belajar memberi kontribusi bagi guru ketika ia menjalankan tugas mengajar di dalam kelas sehingga tampak pada kinerjanya ketika mengajar dengan mempertimbangkan prinsip psikologis murid.
  2. Tujuan mempelajari psikologi belajar, antara lain: (1) untuk membantu para guru dan calon guru, agar menjadi lebih bijaksana dalam usahanya membimbing murid dalam proses belajar. (2) Agar para guru dan calon guru dapat menciptakan suatu sistem pendidikan yang efisien dan efektif dengan jalan mempelajari, menganalisis tingkah laku murid dalam proses pendidikan untuk kemudian mengarahkan proses-proses pendidikan yang berlangsung guna meningkatkan ke arah yang lebih baik.
  3. Fungsi psikologi belajar menurut Gage dan Berliner, antara lain menjelaskan, memprediksikan, mengontrol fenomena (dalam kegiatan belajar mengajar), dan dalam pengertiannya sebagai ilmu terapan. Dengan demikian, psikologi belajar dapat membantu guru untuk memahami bagaimana individu belajar. Dengan mengetahui individu belajar, kita dapat memilih cara yang lebih efektif untuk membantu memberikan kemudahan, mempercepat, dan memperluas proses belajar individu.
  4. Manfaat dan kegunaan psikologi belajar merupakan alat bantu bagi penyelenggara pembelajaran untuk mencapai tujuan pembelajaran. Psikologi belajar dapat dijadikan landasan berpikir dan bertindak bagi guru, konselor, dan juga tenaga profesional kependidikan lainnya dalam mengelola proses pembelajaran.

Tinggalkan komentar