√ Wasiat Rasulullah Saw Kepada Imam Ali Tentang Halal dan Haram - Musoffa Asad

Wasiat Rasulullah Saw Kepada Imam Ali Tentang Halal dan Haram

Wasiat Rasulullah Saw Kepada Imam Ali bin Abi Thalib Tentang Halal dan Haram – Masalah Halal dan Haram adalah masalah yang sangat penting, yang harus diperhatikan oleh setiap mukmin yang mengharapkan amal ibadahnya diterima oleh Allah, sehingga dapat berhasil mencapai kebahagiaan di dunia dan akhirat.

Dengan alasan ini penyusun risalah ini menempatkan wasiat Rasulullah Saw tentang halal dan haram pada urutan pertama.

Halal dan haram memiliki pengaruh yang kuat dalam pembentukan mental spiritual seseorang. Oleh sebab itu, setiap mukmin harus memperhatikan betul terhadap masalah ini dan berusaha mencari yang halal dan mengabaikan yang haram, agar darah dan daging dalam tubuh ini benar-benar bersih dan suci.

7 Wasiat Rasulullah Saw Kepada Imam Ali bin Abi Thalib Tentang Halal dan Haram

Dan berikut kami akan sebutkan 7 wasiat Rasulullah Saw Kepada Sayyidina Ali bin Abi Thalib

1. Pengaruh Makanan Halal

يَا عَلِيُّ مَنْ أَكَلَ الْحَلَالَ صَفَا دِيْنُهُ وَرَقَّ قَلْبُهُ وَلَمْ يَكُنْ لِدَعْوَتِهِ حِجَابٌ

Wahai, Ali, barangsiapa yang mengonsumsi makanan dan minuman yang halal, maka agamanya bersih, hatinya lunak dan doanya tidak terhalang (dikabulkan oleh Allah).

2. Pengaruh Makanan Syubhat dan Haram

يَا عَلِيُّ مَنْ أَكَلَ الشُّبُهَاتِ إِشْتَبَهَ عَلَيْهِ دِيْنُهُ وَأَظْلَمَ قَلْبُهُ وَمَنْ أَكَلَ الْحَرَامَ مَاتَ قَلْبُهُ وَخَفَّ دِيْنُهُ وَضَعُفَ يَقِيْنُهُ وَحَجِبَ اللّٰهُ دَعْوَتَهُ وَقَلَّتْ عِبَادَتُهُ

Wahai, Ali, barangsiapa yang mengonsumsi makanan atau minuman yang syubhat, maka dia ragu terhadap agamanya dan gelap hati nuraninya.

Barangsiapa yang mengonsumsi makanan dan minuman haram, maka hatinya mati, ringkih agamanya, lemah imannya, Allah menolak doanya dan sedikit ibadahnya.

Keterangan:

Barang (makanan atau minuman) haram itu adakalanya barang itu sendiri memang haram, seperti daging babi atau arak, atau barang itu sebenarnya halal, tapi cara memperolehnya dengan jalan haram, seperti roti hasil curian atau barang itu halal, diperoleh dengan cara yang benar, tetapi alat yang digunakan memperolehnya itu haram, seperti membeli roti dengan uang riba, uang hasil curian atau korupsi.

Imam Ali Al-Khawas berkata: Barangsiapa mengonsumsi makanan atau minuman haram aktif beribadah, maka orang itu tidak ubahnya burung merpati yang mengerami telur yang telah rusak. la capek dan lelah mengeraminya dalam waktu yang sangat lama, tetapi tidak membuahkan apa-apa, bahkan menghasilkan sesuatu yang tidak baik.

Beliau juga berkata: Semua perbuatan maksiat yang dilakukan oleh setiap hamba itu disebabkanh oleh makanan haram. Barangsiapa makan barang haram dan ingin berbuat baik, maka dia menginginkan sesuatu yang mustahil. (A-Minah As-Saniyyah: 7-8).

  • Hikayah I

Diriwayatkan dari Syekh Abu Yazid Al-Busthomí, bahwa dirinya telah beribadah kepada Allah swt. bertahun-tahun, tetapi dia tidak dapat merasakan nikmat dan kelezatan ibadah.

Dia lalu menjumpai ibunya dan berkata: Wahai, Ibuku, saya belum pernah dapat merasakan nikmat dan kelezatan ibadah sama sekali. Tolonglah, renungkanlah, apakah Ibu pernah memakan barang haram, sewaktu Ibu mengandungku atau sewaktu menyusuiku.

Sang ibu berpikir lama sekali, lalu berkata kepada putranya. Hai, anakku, ibu ingat, yaitu ketika ibu mengandungmu, ibu pernah naik ke rumah bagian atas, lalu ibu melihat ada adonan makanan milik tetangga dijemur, ibu ingin memakan itu, lalu ibu mengambilnya sedikit, yaitu sebesar ujung jari dan ibu makan tanpa minta izin kepada pemiliknya. Abu Yazid berkata: Inilah penyebab yang membuat aku tidak dapat merasakan kelezatan ibadah.

Lalu dia berkata: Tolonglah, Bu, temui pemilik barang tersebut dan mintalah kehalalannya. Sang ibu lalu melaksanakannya dan berhasil mendapatkan ridha dan kehalalan dari pemiliknya. Selang sesaat, Abu merasakan kelezatan ibadahnya yang amat luar biasa.

  • Hikayah II

Diriwayatkan dari Syekh Ibrahim bin Adham ra., sesungguhnya dirinya pernah di Makkah membeli kurma dari seseorang, lalu ada dua biji kurma jatuh di tanah di dekat kakinya.

Dia menyangka, bahwa dua kurma itu termasuk yang ia belinya, tanpa pikir dia lalu memakannya. Dia kemudian pergi ke mesjid Al-Aqsho di kota Baitul Maqdis, lalu masuk ke Qubbatus Shahroh dan menyepi di sana.

Sedangkan di tempat itu ada peraturan, siapa saja yang ada di tempat ini harus keluar mulai malam menjelang tiba, karena malaikat akan masuk dan beribadah sepanjang malamn. Penjaga tempat ini, sesudah Ashar, berusaha menghalau setiap orang yang di dalamnya, agar keluar.

Tetapi Ibrahim bin Adham bersembunyi. Lalu pintu Qubbatus Shahroh ditutup. Para malaikat mulai berdatangan dan masuk.

Ketika masuk mereka berkata, di sini ada manusia, malaikat lain menyahut, ya, ada, yaitu Ibrahim bin Adham, seorang ahli ibadah dari Khurosan. Yang lain pun menjawab, ya, benar.

Malaikat lain menyahut, oh, darinya ada amal naik ke langit dan diterima tiap hari itu, lalu ada suara menyahut, ya, hanya saja ibadahnya itu berhenti sejak satu tahun ini dan selama ini doanya tidak dikabulkan, gara-gara dua biji buah kurma.

Semalam suntuk para malaikat tersebut beribadah kepada Allah swt. hingga fajar. Penjaga tempat suci ini lalu datang dan membuka pintunya.

Ceritanya Ibrahim bin Adham lalu keluar dan pergi menuju kota Makkah langsung menuju toko tempat ia membeli kurma beberapa tahun lalu.

Dia mendapati seorang pemuda di toko itu, dan berkata kepadanya, tahun lalu di tempat ini ada orang tua menjual kurma. Pemuda itu menjawab, ya, ia adalah ayah saya dan sudah meninggal. Lalu Ibrahim bercerita tentang pengalamannya yang berkaitan dengan dua biji buah kurma.

Pemuda itu berkata: Saya menghalalkan bagianku. Tapi selain aku, ahli waris ayah itu masih ada, yaitu satu saudaraku perempuan dan ibu. Ibrahim berusaha menjumpai mereka dan minta kehalalan bagian mereka dalam dua kurma tersebut.

Keduanya menghalalkannya juga.

Syekh lbrahim bin Adham lalu berangkat ke kota Baitul Maqdis dan masuk ke Qubbah itu seperti biasanya, menjelang malam hari.

Mereka berkata kepada yang lain, ini Ibrahim bin Adham, amal-amalnya ditangguhkan dan doanya tidak dikabulkan sejak setahun. Tetapi setelah ia membereskan urusan dua biji buah kurma yang dimakannya tanpa sengaja itu, maka amal-amalnya diterima, doa-doanya dikabulkan dan Allah swt. mengembalikannya pada derajatnya semula.

Ibrahim bin Adham mendengar ucapan itu menangis karena gembira. la kemudian tidak makan, kecuali sekali dalam seminggu dengan makanan yang halal. (An-Nawadir: 36-37).

3. Rezeki Haram dan Murka Allah

يَا عَلِيُّ اِذَا غَضَبَ اللّٰهُ عَلَى أَحَدٍ رَزَقَهُ اللّٰهُ مَالًا حَرَامًا، فَاِذَا اشْتَدَّ غَضَبُهُ عَلَيْهِ وَكَّلَ بِهِ شَيْطَانًا يُبَارِكُ لَهُ فِيْهِ وَيَصْحَبُهُ وَيُشْغِلُهُ بِالدُّنْيَا عَنِ الدِّيْنِ وَيُسَهِّلُ لَهُ أُمُوْرَ دُنْيَاهُ وَيَقُوْلُ اللّٰهُ غَفُوْرٌ رَحِيْمٌ

Wahai, Ali, jika Allah swt. murka kepada seseorang, maka Dia memberinya rezeki berupa kekayaan yang haram. Apabila kemurkaan-Nya kepada orang tersebut bertambah, maka Allah akan menugaskan setan membantunya mengurusi harta kekayaan dan menemaninya mencari kekayaan, menyibukkan- nya dengan urusan dunia hingga lupa terhadap urusan agama dan memudahkan orang tersebut dalam hal urusan dunia lalu berkata: tenanglah, Allah adalah Maha Pengampun dan Maha Penyayang.

4. Pencari Harta Haram adalah Kawan Setan

يَا عَلِيُّ مَا سَافَرَ أَحَدٌ طَالِبَ الْحَرَامَ مَاشِيًا إِلَّا كَانَ الشَّيْطَانُ قَرِيْنَهُ، وَلَا رَاكِبًا إِلَّا رَدِيْفَهُ، وَلَا جَمَعَ أَحَدٌ مَالًا حَرَامًا إِلَّا أَكَلَهُ الشَّيْطَانُ، وَلَا نَسِيَ أَحَدٌ اسْمَ اللهِ تَعَالٰى عِنْدَ الْجِمَاعِ إِلَّا شَارَكَهُ فِيْ وَلَدِهِ، وَذٰلِكَ قَوْلُهُ تَعَالٰى : وَشَارِكْهُمْ فِى الْأَمْوَالِ وَالْأَوْلَادِ وَعِدْهُمْ

Wahai, Ali, tidaklah seseorang pergi mencari harta haram dengan berjalan kaki, melainkan ia ditemani setan, tidaklah seseorang pergi mencari harta haram dengan naik kendaraan, melainkan ia dibuntuti oleh setan, dan tidaklah seseorang mengumpulkan harta haram, melainkan setanlah yang me- makannya. Siapa saja yang lupa menyebut asma Allah ketika berhubungan badan dengan istri, maka ia diikuti setan dalam ikhtiarnya mendapatkan anak.

Demikian itulah yang dimaksud firman Allah swt.:

قَوْلُهُ تَعَالٰى : وَشَارِكْهُمْ فِى الْأَمْوَالِ وَالْأَوْلَادِ وَعِدْهُمْ

… Dan bersekutulah dengan mereka pada harta dan anak-anak serta beri janjilah mereka.

  • Keterangan:

Setan adalah golongan jin yang membangkang, perbuatan-perbuatannya selalu mengarah pada pembangkangan dan kehancuran, senantiasa berusaha menghancurkan kehidupan umat manusia dengan usahanya menjauhkan manusia dari hidayah Allah dan jalan yang benar. Setan adalah musuh Allah dan musuh manusia.

Allah swt. telah memperingatkan kita agar mewaspadai tipu dayanya, memberi tahu kepada kita tentang permusuhannya dan mendorong kita agar terus melawannya dengan segala cara, sampai dorminasinya melemah. Dia berfirman:

اِنَّ الشَّيْطٰنَ لَكُمْ عَدُوٌّ فَاتَّخِذُوْهُ عَدُوًّاۗ اِنَّمَا يَدْعُوْا حِزْبَهٗ لِيَكُوْنُوْا مِنْ اَصْحٰبِ السَّعِيْرِۗ

Sesungguhnya setan itu adalah musuh bagimu, maka anggaplah ia musuhmu, karena sesungguhnya setan-setan itu hanya mengajak golongannya supaya mereka menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala. (Q.S. Fathir: 6).

Setan itu sangat gigih dalam mengganggu manusia dan terus mencari kesempatan masuk jiwa manusia. Tetapi, jika jiwa manusia itu sehat dan bebas dari penyakit-penyakit jiwa yang merupakan pintu masuk setan, maka setan tidak akan berhasil menusuknya. Adapun penyakit-penyakit jiwa (hati) yang menjadi pintu masuk setan itu antara lain cinta harta.

5. Allah Menolak Sedekah dari Harta Haram

يَا عَلِيُّ لَا يَقْبَلُ اللّٰهُ تَعَالٰى صَلَاةً بِلاَ وُضُوْءٍ وَلَا صَدَقَةً مِنَ الْحَرَامِ

Wahai, Ali, Allah swt. tidak menerima salat seseorang tanpa wudhu dan Dia tidak menerima sedekah dari harta haram.

  • Keterangan:

Dalam hadis Nabi saw. disebutkan:

مَنْ أَصَابَ مَالاً مِنْ مَأْثَمٍ فَوَصَلَ بِهِ رَحِمًا أَوْ تَصَدَّقَ بِهِ أَوْ أَنْفَقَهُ فِيْ سَبِيْلِ اللهِ جَمَعَ ذلِكَ جَمِيْعًا ثُمَّ قَذَفَ بِهِ فِى النَّارِ

Barangsiapa yang mendapatkan uang (harta) dari cara yang tidak benar, lalu digunakan menyambung sanak famili, disede kahkan atau diinfakkan untuk membela agama Allah, maka harta itu dikumpulkan oleh Allah swt. seluruhnya, lalu dicampakkan ke neraka. (H.R. Abu Dawud).

Imam Sufyan Ats-Tsauri r.a. berkata:

Barangsiapa yang menginfakkan harta yang berasal dari harta haram di jalan kebaikan, maka ia seperti orang yang mencuci pakaian najis dengan air kencing. Pakaian yang najis itu tidak dapat disucikan, kecuali dengan air dan dosa itu tidak dapat dihapus, kecuali dengan harta halal. (Ihya Ulumuddin juz 2: 25).

6. Harta Haram Penghalang Meningkatnya Iman

يَا عَلِيُّ لَا يَزَالُ الْمُؤْمِنُ فِيْ زِيَادَةٍ فِيْ دِيْنِهِ مَا لَمْ يَأْكُلِ الْحَرَامَ، وَمَنْ فَارَقَ الْعُلَمَاءَ مَاتَ قَلْبُهُ وَعَمِيَ عَنْ طَاعَةِ اللّٰهِ تَعَالٰى

Wahai, Ali, orang mukmin itu senantiasa bertambah meningkat agama (amal baik)nya, selama dia tidak memakan makanan haram. Barangsiapa yang menjauhi ulama, maka hatinya mati dan tidak tahu menjalankan taat kepada Allah swt.

  • Keterangan:

Dalam hadis Nabi saw. yang lain disebutkan:

مَنْ أَكَلَ الحَلاَلَ أَرْبَعِيْنَ يَوْمًا نَوَّرَ اللهُ قَلْبَهُ

“Barangsiapa makan barang halal selama empat puluh hari, maka Allah akan menerangi hatinya dan mengalirkan sumber-Sumber hikmah dari hatinya.

  • Kedudukan Ulama

Ada sebuah riwayat dari Ka’ab bin Al-Ahbar t.a., ia berkata: Sesungguhnya Allah di hari kemudian nanti akan menghisab semua amal hamba. Apabila kejelekannya lebih berat dari amal baiknya, maka diperintahkan ke neraka.

Ketika mereka, para hamba, itu berjalan menuju neraka, Allah berkata kepada Malaikat Jibril: Hai, Jibril, temuilah hamba-Ku …. dan tanyakanlah kepadanya, apakah dia saat hidup di dunia pernah mendatangi majelis seorang ulama, agar Aku dapat mengampuninya, dengan syafaat si ulama tersebut?

Malaikat Jibril melaksanakan perintah itu dan si hamba tersebut menjawab: Tidak pernah mendatangi majelis (pengajian) ulama. Malaikat Jibril lalu kembali menghadap kepada Allah dan berkata: Ya, Robbi, Engkau Maha Mengetahui tentang keadaan hamba-Mu, dia menjawab tidak pernah mendatangi majelis (pengajian) ulama.

Allah swt. memerintahkan kepada Malaikat Jibril, bertanyalah kepada hamba itu: Apakah dia pernah mencintai seorang ulama?

Malaikat Jibril pergi melaksanakan perintah itu, tetapi hamba itu menjawab tidak pernah mencintai seorang ulama. Malaikat kembali kepada Allah. Allah berfirman kepada Jibril: Tanyakanlah kepada hamba-Ku itu: Apakah dia pernah duduk makan yang dihadiri oleh seorang ulama.

Malaikat Jibril pergi melaksanakan tugas tersebut. Tetapi si hamba itu menjawab tidak. Allah kemudian memerintah Jibril agar bertanya kembali kepada hamba tersebut: Apakah dia pernah tinggal di sebuah perkampungan yang di situ terdapat seorang ulama?

Malaikat Jibril melaksanakan perintah itu. Setelah ditanya tentang ini ternyata si hamba itu menjawab tidak. Allah kemudian berkata kepada Jibril, tanyakanlah kepadanya, apakah namanya sama dengan nama seorang ulama.

Malaikat pergi dan menanyakan hal itu kepadanya. Tetapi si hamba itu menjawab tidak. Malaikat Jibril menghadap kepada Allah. Kemudian Allah memerintah Malaikat Jibril, agar bertanya lagi kepada hamba tersebut, apakah dia mencintai orang yang mencintai seorang ulama.

Malaikat Jibril menjumpai hamba itu dan menanyakan kepadanya, apakah dia mencintai orang yang mencintai seorang ulama? Hamba itu menjawab: Ya, saya pernah menyukai orang yang mencintai ulama.

Allah swt. berfirman kepada Malaikat Jibril: Tariklah tangan hamba itu dan tuntunlah ke surga. Sesungguhnya Aku telah mengampuninya, karena dia mencintai orang yang mencintai ulama. (An-Nawadir: 41).

7. Pembaca Al-Quran yang Mengabaikan Halal dan Haram

يَا عَلِيُّ مَنْ قَرَأَ الْقُرْآنَ وَلَمْ يُحِلَّ حَلَالَهُ وَلَمْ يُحَرِّمْ حَرَامَهُ كَانَ مِنَ الَّذِيْنَ نَبَذُوْا كِتَابَ اللهِ وَرَاءَ ظُهُوْرِهِمْ

Wahai, Ali, barangsiapa yang membaca Al Quran tetapi enggan menghalalkan (mengamalkan) apa yang dihalalkan di dalamnya dan tidak mengharamkan (menjauhi) apa yang diharamkan di dalamnya, maka dia termasuk golongan orang-orang yang melemparkan kitab Allah ke belakang punggung mereka.

  • Keterangan:

Dalam hadis Nabi Muhammad saw. dijelaskan:

Demi Dzat Yang Menguasai diri Muhammad, sesungguhnya Malaikat Zabaniyyah itu lebih mendahulukan menyambar orang-orang yang hafal Alqur-an daripada para penyembah patung. Para penghafal Alqur-an itu dicampakkan ke dalam neraka bersama para penye mbah patung.

Mereka, orang-orang yang hafal Alqur-an, protes kepada Allah seraya berkata: Hai, Tuhan kami, mengapa Engkau mencampurkan kami semua ke dalam neraka bersama orang-orang yang telah memakan rezeki-Mu, tetapi menyembah selain Kamu?

Padahal kami ketika hidup membaca kitab Mu. Allah swt. berfirman: Benar hamba-hamba-Ku yang jelek. Kamu semua memang membaca kitab-Ku (Al Quran), tetapi kamu semua tidak menghalalkan apa yang dihalalkan, tidak mengharamkan apa yang Aku haramkan, tidak mau merenungkan keajaiban- ke ajaibannya, dan tidak pula mengamalkan hukum-hukumnya.

Orang yang alim itu tidaklah sama de ngan orang bodoh, maka rasakanlah siksaan ini, sebab apa yang telah kamu perbuat sendiri. (AI-Washoya: 153).

Sumber Referensi: Wasiat Rasulullah Tentang Halal dan Haram yang disampaikan kepada Imam Ali bin Abi thalib diatas, Dikutip dari Wasiyatul Mustofa.

Tinggalkan komentar